Tanya Jurusan PPI Belanda (Chapter Farmasi)

Beberapa pekan yang lalu, saya berpartisipasi dalam salah satu kegiatan PPI Belanda bertajuk “Tanya Jurusan”. Kegiatan ini dibuat sebagai sarana bertukar informasi mengenai jurusan studi yang ditempuh antar mahasiswa Indonesia di Belanda dengan teman-teman yang tertarik melanjutkan studi S1 atau S2 di Belanda. Bentuk acara ini yaitu forum diskusi via whatsapp. Ada sekitar 15 jurusan yang turut berpartisipasi dalam acara ini, baik dari bidang eksak maupun sosial.

12717509_10207225615110203_2079979965041636405_n

Acara ini diselenggarakan oleh my baby dan team,  di divisi Kajian & Pergerakan PPI Belanda bekerja sama dengan team Sahabat Beasiswa. Dari beliau, saya tahu bahwa peminat acara ini sungguh di luar ekspektasi. Pendaftar hampir mencapai 1900 orang dalam waktu kurang dari 3 hari. Semoga setiap jerih payah siapapun yang terlibat dalam acara ini berbuah kebaikan.

IMG_20160213_083319

Untuk jurusan Farmasi, narasumbernya ada empat orang, dua dari jurusan Drug Innovation/Pharmaceutical Sciences, Utrecht University, dan dua orang dari jurusan Medical Pharmaceutical Sciences, University of Groningen. Dari Utrecht, selain saya ada mbak Chita Hanif Muflihah, sedangkan Groningen diwakili oleh teh Monika Puri Oktora & Teh  Atsarina Larasati Anindya. Di acara ini, saya dipasangkan dengan teh Larasati dalam 1 grup, sedangkan mbak Chita bersama teh Monik.

Melalui tulisan singkat ini,  saya ingin membagikan beberapa hasil diskusi yang mungkin bisa bermanfaat bagi teman-teman yang sedang mencari info tentang perkuliahan jurusan Farmasi di Belanda.

1. Apa jurusan master yang Anda ambil? Bagaimana sistem perkuliahannya?

W:

Jurusan master yang saya ambil adalah Drug Innovation (Pharmaceutical Sciences) di Utrecht University. Jurusan ini merupakan research-based program dengan bobot 120 ECTS. Selama program, kita diharuskan melakukan 2 kali riset pada salah satu research group/divisi yang ada di UIPS (Utrecht Institute of Pharmaceutical Sciences).
Research group yang bisa dipilih:
1. Biomolecular Mass Spectrometry & Proteomics
2. Medicinal Chemistry & Chemical Biology
3. Pharmaceutics / Biopharmacy
4. Pharmacology
5. Pharmacoepidemiology & Clinical Pharmacology
Selain riset, kita juga harus menyelesaikan mata kuliah wajib, mata kuliah pilihan, dan thesis.

Gambaran schedule: Perkuliahan dimulai setiap September atau Februari.  Di awal, kita harus ikut mata kuliah wajib selama 5-10 minggu. Kemudian, kita harus melakukan riset pertama (major project) selama 9-12 bulan. Untuk setiap riset, kita sendiri yang menentukan mau riset di divisi mana, kita sendiri juga yang mencari dan menghubungi professor di divisi tersebut. Setelah riset ke-1 selesai, kita harus melakukan riset ke-2 (minor project), durasinya sekitar 6 bulan. Lalu thesis sekitar 1-2 bulan.

Kalau jenuh riset, untuk minor project kita boleh memilih beberapa minor-profile yang ditawarkan kampus (isinya biasanya course intensif & tugas khusus), diantaranya: Management & Bussines profile, Communication & Education profile, dan Drug Regulatory Sciences profile.

Untuk lebih lengkap mengenai overview program silakan dibuka
http://studyguidelifesciences.nl/
Pilih program: Drug Innovation

L:

Kalau jurusan yang saya ambil adalah MSc Medical Pharmaceutical Sciences (MPS) di University of Groningen.
Hampir mirip dengan Widya, masa studi juga 2 tahun dengan total SKS 120 ECTS, yang terdiri dari 30 ECTS research 1, 40 ECTS research 2, 5 ECTS essay, 5 ECTS colloqium, dan 60 ECTS course. Rata-rata course-nya 5 ECTS. Itu struktur perkuliahan standar, dan bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan student.

Tahun ajaran dibuka setiap Sept. Jadi semester pertama kita ambil course untuk persiapan proyek riset kita yang pertama. Kemudian semester berikutnya proyek riset. Untuk tahun kedua diisi dengan colloquium (riset singkat yang hasilnya diungkapkan dalam bentuk presentasi), essay, proyek riset 2, dan mengisi SKS yang masih kurang (optional). Researchnya dilakukan 2 kali, tapi research kedua lebih panjang waktunya dari research 1. Catatan untuk proyek research yang pertama, durasinya bisa diperpanjang hingga 40 ECTS, sehingga 2 kali research total 80 ECTS dan kita hanya perlu mengambil 50 ECTS course. Total 120 ECTS adalah jumlah SKS minimal, jika memungkinkan dan ingin mengambil lebih, silakan. Essay dan Colloqium bisa dilakukan setelah research 1 atau 2. Nah, topik untuk research 1 dan 2, essay, serta colloqium harus berbeda. Jadi kita ambil penelitian dan studi di departemen yang berbeda-beda, tapi.. tergantung dengan track yang kita pilih

Apa itu track? Track itu spesialisasi yang akan kita ambil, bisa cek di sini http://www.rug.nl/masters/medical-pharmaceutical-sciences/programme
Jadi yang pertama ada science, business and policy track, yang kedua toxicology and drug disposition, dan yang ketiga adalah free track (jadi seolah-olah kita menyusun track pengalaman riset kita sendiri. Ini track yang saya ambil)

2. Apa saja pilihan topik penelitian / proyek di program studi tersebut? Apa kira-kira rencana penelitian / projek Anda (jika sudah ada)?

W:

Research group/divisi yang bisa dipilih untuk melakukan riset pada program Drug Innovation:
1. Biomolecular mass spectrometry & proteomics
2. Medicinal chemistry & chemical biology
3. Pharmaceutics / Biopharmacy
4. Pharmacology
5. Pharmacoepidemiology & Clinical Pharmacology

Untuk melihat gambaran riset pada tiap grup riset, bisa dibuka link berikut ini:
http://www.uu.nl/en/research/utrecht-institute-for-pharmaceutical-sciences-uips/research/research-groups

Saya sendiri sedang mengerjakan riset di divisi Pharmacoepidemiology & Clinical Pharmacology dan berencana mengerjakan riset kedua di Julius Centre, University Medical Centre Utrecht (bidang riset Farmakoterapi).

L:

Kalau di Groningen, research group yang bisa dipilih ada:
• Analytical Biochemistry
• Drug Design
• Molecular Pharmacology
• Pharmaceutical Analysis
• Pharmaceutical Biology
• Pharmaceutical Gene Modulation
• Pharmaceutical Technology and Biopharmacy
• Pharmacoepidemiology and Pharmacoeconomics
• Pharmacokinetics, Toxicology and Targeting
• Pharmacotherapy and Pharmaceutical Care

Bisa cek satu persatu di sini: http://www.rug.nl/research/fmns/group/pharmacy-oriented

Research 1 saya di unit Structural Biology, departemen Drug Design.  Research 2 saya di unit Nanomedicine, departemen Pharmacokinetics, Toxicology and Targeting.

3. Mata kuliah apa saja yang terdapat pada program ini?

W:

Mata kuliah wajib pada program Drug Innovation ini hanya 2, yaitu
“Drug Development” dan “Drug Discovery.” Untuk mata kuliah pilihan, mahasiswa dipersilakan memilih mata kuliah yang sesuai dengan penelitiannya atau minatnya.
Beberapa mata kuliah pilihan yang bisa diambil:
1.      Nanomedicine
2.      Bioanalysis
3.      Biomolecular mass spectrometry
4.      Advanced organic synthesis
5.      Biotech product
6.      Immunopharmacology
7.      Pharmacoepidemiology
8.      Pharmaceutical Policy Analysis
9.      Pharmacoeconomy, dsb

Untuk lebih lengkapnya silakan buka

http://studyguidelifesciences.nl/programme-related-courses#drug-innovation

L:
Mata kuliah yang wajib diambil untuk semua track adalah Drug Development (yg diambil di awal perkuliahan). Untuk track toxicology, pharmacoepidemiology, dan science, business and policy track ada mata kuliah yang wajib untuk diambil sesuai track. Kecuali untuk free track bebas memilih mata kuliah apa saja.

Mata kuliah wajib untuk pharmacoepidemiology track:
Basics in Medicine
Medical Statistics
Pharmacoepidemiology
Pharmaco-epidemiology in Practice
Advanced Topics in Pharmacoepidemiology

Mata kuliah wajib untuk toxicology track
Advanced pharmacokinetics
Molecular Toxicology

Mata kuliah wajib untuk business and policy track:
Science and business
Science and policy
Internship business and policy

Course lengkapnya bisa dicek di link berikut ini http://www.rug.nl/ocasys/rug/vak/showpos?opleiding=4550

4. Apa program studi S1 Anda dan peminatannya? Apakah relevan dengan jurusan S2 yang Anda ambil?  Lalu, program studi apa saja yang relevan untuk studi S2 Anda?

W:

Saya menempuh studi S1 Farmasi + Apoteker dengan skripsi/peminatan di area farmasi klinik. Tugas akhir S1 saya tentang pengaruh intervensi pelayanan kefarmasian pada pasien diabetes mellitus tipe 2 dan uji klinik kandidat obat DMT2. Jurusan ini lumayan sesuai dengan background akademik saya karena saya memilih fokus riset di bidang farmakoterapi, uji klinik dan farmakoepidemiologi.

Program studi yang relevan untuk jurusan ini: Farmasi (baik klinik komunitas maupun sains teknologi), kimia, biomedis, biologi. Untuk jurusan non-farmasi biasanya harus mengikuti Pre-Master selama 3-6 bulan.

L:

Kalau kasus saya sekilas mungkin terlihat gak relevan S1 dengan S2 nya (bukan mungkin sih, memang gak terlalu nyambung hehe). Program studi S1 saya Farmasi Klinik dan Komunitas + profesi apoteker di pelayanan farmasi. Tugas akhir S1 saya di lab Bahan Alam dan Analisis Farmakokimia untuk meneliti efek berbagai ekstrak bahan alam terhadap pembentukan asam urat (menggunakan enzim Xanthine Oxidase). Bidang penelitian S2 saya di pengembangan vaksin flu baru di grup Structural Biology dan keamanan dan efek nanopartikel sebagai obat di grup Nanomedicines

5. Bagaimana cara mendaftar ke program studi Anda? Apa saja requirementsnya?

W:

Cara mendaftar untuk program ini adalah melalui kampus, bukan melalui profesor.
Caranya:
1.      Daftar via studielink
2.      Submit dokumen yang disyaratkan secara online via Osiris
3.      Kirim copy dokumen langsung ke Belanda
4.      Bayar application fee (100 euro)
5.      Wawancara langsung via Skype (conditional)
6.      LoA keluar.
Dokumen yg dibutuhkan diantaranya ijazah, transkrip akademik, IELTS minimal 6.5, ijazah, surat rekomendasi, dsb.
Untuk persyaratan lengkapnya, bisa dilihat di:

http://www.uu.nl/masters/en/drug-innovation/admission-and-application/non-eu/ndu#quicklinks

L:

Untuk Groningen langsung intip ini aja yaah http://www.rug.nl/masters/medical-pharmaceutical-sciences/admission-and-application.
Apply S2 di RuG menurut saya ga terlalu rumit, websitenya user friendly.

Stepnya:
1) Bikin akun di Studielink (https://app.studielink.nl/front-office/?brinCode=21PC) 
2) Upload dokumen2 yg dibutuhkan via OAS (Online Admission System) RuG
3) Tunggu balasan sekitar 3-6 minggu
4) Balasan bisa berupa: conditionally admitted, unconditionally admitted (2 ini yg disebut letter of acceptance), atau unadmitted (saya lupa pastinya apa)
5) Kalau sudah diterima, kirim2 dokumen yang diperlukan via surat. Nanti akan diberitahukan dokumen apa saja yang perlu dikirim
6) Setiap update akan dberitahukan via email atau melalui studielink

Syarat pendaftaran:
1) Ijazah, transkrip (dalam Bahasa Inggris)
2) IELTS atau TOEFL IBT
3) Surat Rekomendasi (2 orang)
4) CV
5) Paspor

6. Pilihan beasiswa apa saja yang ditawarkan? Apakah Anda menggunakan beasiswa? Jika ya, beasiswa apa yang Anda ambil dan bagaimana cara apply-nya?

W:

Ya, saya menggunakan beasiswa LPDP.

Cara apply: buat akun online di website lpdp, submit persyaratan2 yang dibutuhkan (ielts, data diri, essay, dsb) ikuti wawancara, LGD (leaderless group discussion), dan on the spot essay writing. Lebih lengkapnya silakan langsung cek di http://www.beasiswa.lpdp.kemenkeu.go.id/

Ada beasiswa yang ditawarkan kampus, yaitu Utrecht excellence scholarship untuk kandidat yang memiliki academic record yang outstanding saat S1.

Persyaratan Utrecht excellence scholarship bisa dicheck di
http://www.uu.nl/masters/en/general-information/international-students/financial-matters/grants-and-scholarships/utrecht-excellence-scholarships

Kalau OTS/Orange tulip scholarsip hanya berlaku untuk beberapa jurusan & universitas di Belanda. untuk Utrecht Univrsity, program yang dibiayai sama OTS hanya MSc Epidemiology PostGrad.

L:

Saya juga pk beasiswa LPDP jadi jawabannya idem hehe. Selain itu di Groningen banyak mahasiswa beasiswa Erasmus Mundus, Stuned, NFP, Orange Tulip Scholarship (ditawarkan oleh Nuffic Neso) atau bisa cek: http://www.rug.nl/education/international-students/financial-matters/grant-finder

Khusus untuk program Medical Pharmaceutical Drug Innovation (MPDI), ada beasiswa yang ditawarkan oleh UMCG (Universitair Medisch Centrum Groningen aka rumah sakit pendidikannya Groningen), yang mencakup tuition fee dan living allowance sebesar 850 euro

7. Apakah ada jurusan yang sama dengan Anda di universitas lain di Belanda?

W:

Ya, ada.
Yang paling mirip strukturnya sama jurusan saya mungkin di MPS Groningen, seperti yang dijelaskan teh Laras.

Selain itu, ada juga yang fokus ke medicinal chemistry, jurusan Drug Discovery & Safety di Vrije Universiteit Amstrdam. Silakan check di:
http://www.vu.nl/en/programmes/international-masters/programmes/c-d/drug-discovery-and-safety/

Atau BioPharmaceutical Sciences di Leiden University. Silakan check di:
https://studiegids.leidenuniv.nl/en/studies/show/4143/bio-pharmaceutical_sciences_systems_pharmacology

L:

Jawabannya sama dengan Widya hehe, yang terkenal fokus di Farmasi memang Groningen, Utrecht, Leiden.

8. Bagaimana perbedaan sistem pendidikan farmasi di Indonesia dan Belanda?

W&L:

Di Belanda, untuk menjadi apoteker, harus menempuh:
-Bachelor of Pharmacy, selama 3 tahun
-Master of Pharmacy, selama 3 tahun. Dengan gelar:M.Sc/M.Pharm ini, apoteker sudah bisa bekerja di community pharmacy/apotek.
Namun, untuk menjadi hospital  pharmacist/apoteker klinik di rumah sakit, mereka harus menempuh pendidikan lanjutan setelah Master of Pharmacy, selama 4 tahun training.

Sekian sedikit ulasan mengenai jurusan kami. Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari tulisan ini.

Salam.

 

Puisi Pernikahan oleh Widya & Yorga

Puisi-puisi ini kami buat sebagai bentuk doa dan perenungan pada saat menjelang pernikahan dan setelah 1 tahun pernikahan. Pernikahan kami dilangsungkan pada tanggal 10 Agustus, 2014.

W&Y-Akad_17.jpg

 

Baiti Jannati

Teruntai do’a untuk kita, wahai Imamku,

Agar kita dapat saling mengasihi demi mengejar rahmat Illahi,

Untuk menjaga ketaataan, kehormatan, menghapus khilaf diri

Untuk memetik lapis keberkahan  hakiki,

Untuk saling menguatkan dalam ibadah di jalan suci,

Untuk mematangkan manfaat yang dapat kita bagi,

Untuk melahirkan putera-puteri yang terpaut cintanya kepada Rabbi,

Agar membanggakan hati Rasulullah SAW, di hari akhir nanti.

 

Mohon bimbing jiwa yang hina-dina nan dzalim ini ini Ya Alloh,

Agar ikatan yang agung ini dapat menjadi sarana, pun menjadi saksi,

Dari pautan ruh-ruh yang sedang berjuang memantaskan diri,

Untuk menjadi pewaris generasi Rabbani,

Dan membangun keluarga  yang terlindungi dari siksa api  di hari nanti.

Aamiin Yaa Robbal Alamiin.

Widya, 10 Agustus 2014

W&Y-Penyambutan_11

Refleksi Satu Tahun

Sakinah, menikahimu membawa ketenangan pada jiwa,

Kamu jadi tempat kembali segala rasa,

Sumber energi untuk langkah2 perjalanan berikutnya

Mawaddah, menikahimu selalu dihiasi benih2 cinta menggelora,

Tiada hari yang kita isi tanpa romantisme gairah muda,

Seakan setiap paginya adalah hari baru mengenalmu dan setiap malamnya adalah kali pertama mengencanimu

Rahmah, menikahimu adalah memberi tak harap kembali,

Maka kita saling belajar,

Maka kita saling menumbuhkan.

Karena ketulusan saling menyayangi sejatinya adalah proses saling memperbaiki yang tiada akhir

Barokah, menikahimu, semoga kebaikan2 dalam keluarga kecil kita,

Yang kita usahakan lewat ikatan suci ini,

Tersebar dan jadi inspirasi kebaikan2 bagi sekitar.

Aamiin

Yorga, 10 Agustus 2015

W&Y-Akad_66

 

Trip to Switzerland: Day 2 (Golden Pass & Luzern)

Bismillaahirrohmaanirrohiim. Tujuan wisata kami pada hari kedua di Swiss diantaranya menikmati keindahan alam Swiss melalui jalur Golden Pass dan berkunjung ke kota Lucerne. Golden Pass merupakan salah satu dari 3 jalur kereta wisata Swiss yang populer.  Jalur kereta Golden Pass berawal dari kota Montreux ke Zweissimen, kemudian ke Interlaken, sampai akhirnya ke kota Lucerne. Waktu tempuh dari Montreux ke Lucerne yaitu sekitar 5 jam.

Selain Golden Pass, terdapat jalur kereta wisata lain yaitu Glacier Express dan Bernina Express. Glacier express melintasi pegunungan Alpen di bagian Selatan Swiss, sedangkan rute Bernina Express membujur dari Tenggara Swiss ke Italia.

Alasan kami memilih rute Golden Pass diantaranya karena kedua paket kereta wisata lainnya tidak gratis walau memakai paket InterRail. Di jalur Golden Pass, pengguna paket Inter-Rail bisa menumpang dengan cuma-cuma. Untuk traveller yang memilih tidak membeli paket InterRail, ongkos menumpang Golden Pass kira2 sebesar 75 euro per orang. Alasan kami membeli paket InterRail sudah kami ulas di artikel sebelumnya ya. Lalu, alasan kedua kenapa kami gak memilih 2 kereta wisata lainnya adalah karena rutenya jauh dan tidak pas dengan tujuan kami. Sebetulnya bisa saja dipas-paskan, namun jadinya bisa muter2in Swiss gak karuan. Supaya efisien dan efektif, akhirnya jalur Golden Pass lah yang kami pilih.

Saat pagi menjelang siang, kami check out dari apartemen AirBnB untuk melanjutkan perjalanan ke Montreux. Awalnya, kami berencana untuk menumpang Golden Pass pada pukul 09.44, namun karena kami terlalu lelah, kami tidak sempat mengejar keberangkatan di jam tersebut. Kami baru check out pada pukul 10.00 dan  memulai perjalanan Golden Pass pada pukul 11.44.

IMG_2468.JPG

My baby di kereta Panoramic Golden Pass saat berangkat dari Montreux

Pemandangan sepanjang jalur Golden Pass masya Alloh luar biasa indahnya. Mata dimanjakan dengan kreasi Pencipta berupa gunung-gunung berselimut salju, danau-danau berwarna hijau toska yang jernih, rumah-rumah tradisional khas Eropa, dan hamparan padang hijau seperti di desktop-desktop.

IMG_2582

IMG_2524

IMG_2503

Beberapa view sepanjang rute Golden Pass yang berhasil ditangkap kamera kami

Saran kami, kalau mau lebih salse sebaiknya dari Montreux berangkat pukul 09.44, karena nanti ketika berhenti di Interlaken, kita bisa naik perahu menyusuri danau Brienz sampai ke stasiun Brienz (waktu tempuh sekitar 75 menit), untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan kereta Golden Pass berikutnya. Jika berangkat pukul 11.44, banyak waktu terbuang untuk menunggu. Oleh karena pertimbangan tersebut, kami memilih untuk tidak naik perahu di Danau Brienz. Ohya, jadwal keberangkatan  Golden Pass dari setiap kota yang dilaluinya bisa dilihat di website  resmi Golden Pass ya.

IMG_2576

Stasiun Brienz, bersebelahan dengan Danau Brienz

Ohya sedikit tips, untuk perjalanan dari Montreux ke Zweissimen sebaiknya duduk di sebelah kanan. Lalu saat berganti kereta di Zweissimen, sebaiknya duduk di sebelah kiri. Lalu di kereta terakhir menuju Lucerne sebaiknya juga duduk di sebelah kiri. Hal ini dimaksudkan agar kita mendapat best view dari setiap rute. Tips ini kami dapat dari pengalaman kami sendiri dan saran dari forum website tripadvisor.

IMG_2489

Karena perjalanan di dalam kereta cukup lama, kami membawa amunisi perbekalan makanan untuk mengantisipasi lapar di perjalanan. Kami membeli snack berupa 2 buah croissant dan 1 pak anggur hijau di supermarket Coop dekat stasiun Montreux. Untuk makan siang, kami membawa indomie goreng dobel yang sudah kami masak di apartemen pagi-pagi. Salah satu keuntungan menginap di AirBnb adalah kita bisa menggunakan dapur di apartemen host untuk memasak. Walau ada juga kekurangannya misal kurang bebas. Oleh karena itu,  untuk akomodasi di Lucerne selama 2 hari, kami memilih menginap di Ibis, walau jadi tidak bisa masak-masak.

Di Zweissimen, kami berganti kereta dengan tujuan Interlaken. Interlaken adalah kota cantik yang menjadi  basecamp bagi traveller yang berencana naik ke Mt. Jungfrao. Kami tidak memilih berwisata ke Jungfrao karena harganya jauh lebih mahal daripada hiking ke Mt. Titlis.

IMG_2562.JPG

Di stasiun Interlaken

Dari Interlaken kami melanjutkan perjalanan ke Lucerne. Sepanjang perjalanan, mata ini terus-terusan dimanjakan dengan pemandangan alam Swiss yang tidak ada duanya. Kalau boleh modif kata-kata Syahrini mah: sebentar di danau, sebentar di gunung, sebentar di  padang *kekeke* Saat di perjalanan dari Interlaken ke Lucerne, sebetulnya kami sempat ingin turun di stasiun Lungern dan mencoba jalan-jalan ke bawah, ke  Danau Lungern. Namun kami mengurungkan niat karena kami tidak ingin terlalu sore sampai ke Lucerne. Selain itu kami juga merasa ragu jika sore-sore masih ada di daerah pedesaan yang kami kurang familiar dengan kondisi lingkungan dan keamanannya. Bagi yang sampai kesini saat pagi atau siang, mungkin jalan-jalan di Danau Lungern bisa jadi salah satu pilihan.

IMG_2579

Sesampainya di Lucerne sekitar pukul 5 sore, kami memutuskan untuk tidak check-in dahulu  namun berjalan-jalan di centrum kota Lucerne. Kota Lucerne ini indah sekali, ia dikelilingi pegunungan dan memiliki danau yang cantik dan luas, namanya Danau Lucerne. Arsitektur kotanya perpaduan antara Eropa klasik dan modern. Ohya, bahasa resmi di Lucerne bukan lagi Perancis, melainkan Jerman.

IMG_2950

IMG_3021

Lucerne & Pilatus, captured by my baby

 

Terdapat jembatan yang menjadi ikon wisata Lucerne, yaitu Chapel bridge. Menurut Wikipedia, jembatan ini dibangun sekitar tahun 1300an sebagai bagian dari benteng kota. Benteng ini berguna untuk menahan serangan dari selatan atau dari danau. Di langit-langit jembatan terdapat lukisan-lukisan yang mengisahkan sejarah kota. Di sebelah jembatan, terdapat menara/water tower yang pada zaman dahulu digunakan sebagai penjara dan ruang arsip kota Lucerne.

IMG_2633.JPG

Di depan Chapel Bridge, Lucerne

IMG_2650

Di dalam Chapel Bridge, penuh turis ^^

Sekitar pukul 06.00 sore perut kami  sudah mulai keroncongan. Kami memutuskan untuk makan malam di restoran halal di dekat stasiun Lucerne. Jaraknya dari stasiun Lucerne kira-kira 700-800 meter. Kami memesan lahmachun, cevapcici dan salad. Setelah makan, kami bergegas kembali ke stasiun untuk menuju Kriens Mattenhoff, tempat hotel kami berada. Waktu tempuh dari Lucerne central ke Kriens Mattenhoff kira-kira 5-7 menit perjalanan.  Kami sengaja memilih hotel di daerah tersebut karena harganya  sangat miring dan kualitasnya memuaskan. Kalau Hotel di sekitar central Lucerne harganya sudah tidak masuk kantong.  Di Ibis Kriens Mattenhoff, untuk semalam, kami hanya perlu membayar sekitar 90 euro untuk 2 orang dengan pelayanan sekelas hotel bintang. Sangat recommended.

Selepas makan malam, kami akhirnya check in di Ibis Kriens Mattenhoff untuk beristirahat.

IMG-20160329-WA0002

Perjalanan kami di hari ketiga dan keempat di Swiss insya Alloh akan saya tuliskan segera setelah beres deadline tugas ya.  Auf Wiedersehen!

Spaghetti Creamy Carbonara

 

IMG_3203.JPG

Sempat deg-degan, suami seneng ga ya sarapan yang eneg2 gini. Pas dicoba, eeh alhamdulillah suka-suka aja. Asik

Bahan:

Spaghetti kira-kira 200 g

Sosis 3-4 buah, dipotong serong, goreng

Cream cheese 8-9 sdm

Susu cair 1 gelas

Telur 1 butir

Italian herbs (campuran oregano, basil, thyme)

Terigu 1-2 sdm

Bawang bombay 1 siung

Bwang putih 3 siung

Merica dan garam secukupnya

Cara:

  1. Rebus spaghetti sampai aldente
  2. Tumis bawang putih dan bawang bombay sampai wangi
  3. Masukkan kocokan susu cair dan telur, tunggu sampai matang
  4. Tambah terigu, aduk sampai kental
  5. Masukkan cream cheese, Italian herbs, garam, dan merica, cek rasa.
  6. Masukkan spaghetti dan sosis, aduk rata
  7. Sajikan

Gyoza a.k.a. Dumpling

DSC_0009

Sejak makan all you can eat sushi di Utrecht, saya mulai menyadari bahwa suami suka sekali gyoza. Setelah riset ke berbagai situs, akhirnya dapat juga resep dumpling yang oke. Sebelumnya saya pernah coba buat dumpling 2 kali, tapi hasilnya selalu kurang memuaskan. Sebelumnya isian dumplingnya gak menggunakan saus tiram sama sekali dan hanya dikukus, jadi rasanya kurang nendang.  Alhamdulillah dengan resep yang ini, suami suka. Yeay!

Gyoza

Bahan:

Ayam cincang 500 g

Kol kira-kira 150 g, cincang halus

Bawang daun 7 batang,  cincang halus

Saus tiram 6-8 sdm

Minyak wijen 1 sdm

Garam secukupnya

Kulit gyoza frozen  35-40 lembar

Cara:

  1. Aduk rata ayam cincang, kol, bawang daun, saus tiram, minyak wijen, dan garam, cek rasa.
  2. Siapkan kulit gyoza, masukkan isian ke dalam kulit gyoza, lipat.
  3. Siapkan teflon, masukkan sedikit saja minyak goreng, tata gyoza di atas teflon, nyalakan api, tunggu sampai bagian bawah gyoza kecoklatan.
  4. Setelah itu, masukkan sedikit air, tutup teflon, tunggu sampai gyoza matang dan air menyusut.
  5. Angkat gyoza, sajikan

Cah Brokoli Wortel Jamur

 

IMG_3150.JPG

Bahan:

Wortel 2 buah, iris serong

Brokoli 1 kuntum, potong kecil-kecil

Jamur tiram kira-kira 200 g, suwir-suwir

Bawang merah 1-2 siung besar, cincang

Bawang putih 2-3 siung, cincang

Garam secukupnya

Gula secukupnya

Merica secukupnya

Cara:

  1. Tumis bawang merah dan bawang putih
  2. Masukkan wortel, tambah air sedikit, tunggu sampai wortel setengah matang
  3. Masukkan brokoli kemudian jamur.
  4. Tambahkan garam, gula, merica, cek rasa.
  5. Masak sampai matang. Sajikan.

Sapi Lada Hitam

IMG_3156

Bahan:

600 g daging sapi

Bawang bombay 1 siung

Bawang putih 3 siung

Paprika merah 1 buah

Paprika hijau 1 buah

Lada hitam kira-kira 1-2 sdt

Kecap manis secukupnya kira-kira 6-8 sdm

Saus tiram kira-kira 1 sdm

Garam secukupnya

Gula secukupmya

Cara:

  1. Potong daging tipis2, rebus sampai empuk (kira-kira 45 menit sampai 1 jam), sisihkan.
  2. Di wajan, tumis bawang putih dan bawang bombay sampai wangi.
  3. Masukkan paprika, tunggu sebentar sampai paprika setengah matang.
  4. Masukkan daging, kecap, lada hitam, saus tiram, garam, gula.
  5. Tes rasa, masak sampai matang, sajikan

 

Trip to Switzerland: Day 1 (Geneva, Lausanne, Montreux)

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Alhamdulillaah pada easter holiday tahun ini (26-29 Maret 2016) saya dan suami berkesempatan untuk liburan ke Swiss. Kenapa Swiss? Karena kami tertarik banget untuk menikmati dan mentadaburi kekuasaan Alloh berupa keindahan alam khas Eropa seperti gunung salju dan view danau-danau cantik. Kami penasaran ingin melihat tumpukan salju, karena, maklum, tahun 2015 Eropa sedang mengalami warm winter, jadi Belanda hanya kebagian sedikit sekali salju, kecuali kota-kota di utara.

Tujuan utama kami yaitu Mount Titlis di kota Engelberg dan perjalanan Golden Pass antara kota Montreux dan Lucerne. Supaya sekalian puas, kami juga menyasar kota-kota utama lain yang terkenal indahnya seperti Geneva, Lausanne, Bern, dan Basel.

Karena suami adalah tipe traveller yg detil dan terencana, bukan yang cenderung go with the flow dan spontan, maka dari jauh hari kami sudah menyusun itinerary, mengecek jadwal kereta dan kapal, membeli tiket pesawat, pesan kamar di Air Bnb atau hotel, serta memesan paket Inter-Rail (paket tiket kereta antar kota di Eropa).

Tips umum untuk traveller, yang kami dapat dari teman kami, Lusi: Untuk mempermudah booking dan pembayaran tiket serta akomodasi, sebaiknya traveller memiliki akun Paypal atau prepaid credit seperti Skrill, karena tidak semua booking bisa dibayar memakai sistem transfer langsung antar Bank/iDeal kalau di Belanda.

Untuk perjalanan kali ini, kami mendapat harga tiket pesawat promo dari maskapai budget milik UK, Easy Jet, sebesar 57.5 euro, PP, per orang. Promo ini didapat dari website Easyjet langsung. Untuk akomodasi, di hari pertama kami menginap di apartemen AirBnB di Lausanne, sedangkan di hari kedua dan ketiga kami menumpang di Hotel Ibis Lucern. Karena perjalanan kami kali ini sangat “dinamis” (kami bisa pindah ke 2-3 kota dalam 1 hari menggunakan kereta) maka kami memesan paket kereta api Inter-Rail supaya lebih praktis. Harganya sekitar 108 euro per orang untuk perjalanan 4 hari, all-in. Dengan paket ini, kami tidak usah repot-repot membeli tiket di setiap stasiun kereta serta mendapat diskon 50% untuk naik perahu di Lucern, dan cable car di Engelberg. Setelah dihitung-hitung, untuk perjalanan kali, ini ternyata membeli paket Inter-rail  lebih menguntungkan dibanding beli tiket kereta keteng-an karena ternyata harga tiket kereta antar kota di Swiss  mahal sekali. Alhamdulillah balik modal.

Di hari pertama ini, kami berencana untuk mengunjungi 3 kota di Swiss: Geneva, Lausanne, dan Montreux.

Pada pagi hari sekitar pukul 5, kami berangkat dari rumah menuju Utrecht Centraal Station menggunakan sepeda. Waktu tempuh Utrecht – Schipol Amsterdam menggunakan kereta berjenis Sprinter yaitu sekitar 50 menit. Karena sudah check-in online sebelumnya, sesampainya di bandara kami langsung melesat ke boarding lounge. Penerbangan kami dijadwalkan take off pukul 7.25 dari Schipol Amsterdam menuju Geneva.

Tujuan kami di kota Geneva diantaranya Jet de Eau atau water jet di Danau Geneva, Flower Clock, United Nation Office, dan Broken Chair Monument.

Sesampainya di Geneva airport sekitar pukul 9, kami bergegas untuk naik kereta menuju Geneva Central Train Station/ Geneva Cornavin. Sama seperti di Schipol, Geneva airport juga sudah integrated sama stasiun keretanya, jadi gak perlu keluar bandara, tinggal cari petunjuk arah peron stasiun, sampai deh di stasiun kereta. Waktu tempuh Geneva Airport ke Geneva Cornavin menggunakan kereta yaitu sekitar 10 menit.

Tujuan pertama kami adalah melihat Jet de Eau di Danau Geneva. Danau Geneva terletak kira-kira 500 meter dari stasiun Geneva Cornavin. Kami menempuhnya dengan berjalan kaki. Ohya, untuk urusan penentuan lokasi dan arah, suami menggunakan peta GPS di aplikasi Ulmon, aplikasi ini tidak membutuhkan internet dan sangat user-friendly  bagi traveller karena menyajikan peta tempat wisata, tempat makan, tempat ibadah dan sebagainya. “hanya” membutuhkan skill “membaca-peta” yang mumpuni. Alhamdulillah dengan skill beliau, kami jarang sekali nyasar. 😀

Kembali ke Danau Geneva. Danau ini cantik, berair jernih, dan luas. Danau ini  terletak di bagian barat Swiss, memanjang dari kota Geneva, Lausanne, sampai Montreux, dan  berbatasan langsung dengan Prancis. Ngomong2 soal Prancis, mungkin karena lokasi 3 kota diatas berdekatan dengan Prancis, maka 3 kota tersebut menggunakan bahasa Prancis sebagai bahasa resminya. Fyi, Swiss gak punya bahasa sendiri. Sebagian daerah di Swiss ada yang menggunakan bahasa Prancis, sebagian lagi Jerman, dan sebagian kecil Itali. 3 bahasa ini merupakan official languages di Swis

IMG_2215.JPG

Danau Geneva

Landmark kota Geneva yang paling terkenal tentu saja Jet de Eau atau air mancur/water jet di Danau Geneva. Awalnya kami sempat riweuh karena saat kami datang, air mancurnya tidak beroperasi. Setelah bertanya ke petugas di sekitar danau, kami tahu bahwa air mancur mungkin tidak beroperasi karena kondisi angin yang buruk. Kami hanya bisa pasrah sambil makan eskrim di café pinggir danau. Setelah kira-kira 20 menit, ndelala air mancurnya nyala. Alhamdulillaah.

IMG_2192

My baby di cafe pinggir Danau Geneva

geneve 1.jpg

Santai-santai di pinggir danau Geneva

Menurut Wikipedia, Jet de Eau ini awalnya digunakan sebagai bagian dari pembangkit listrik tenaga hidrolik. Tapi lama-kelamaan orang mulai menyukai unsur estetiknya hingga akhirnya dibuat menjadi salah satu ikon wisata Geneva. Air mancur yang sekarang sudah beroperasi dari tahun 1951.

IMG_2229

Saya & Jet de Eau

Di sekitar danau Geneva, tepatnya di Jardin Anglais (Taman Angel), terdapat satu ikon wisata Geneva yang lain, yaitu Flower Clock atau L’Horloge Fleurie, jam raksasa yang terbuat dari bunga-bunga syantik. Diameter jamnya sekitar 5 meter dan dekorasi bunganya berubah-ubah sesuai musim. Kembali menurut Wikipedia, taman ini dibuat sebagai simbol dedikasi pembuat jam di kota Geneva.

clock

Kami & L’Horloge Fleurie

Tujuan kami berikutnya yaitu United Nation Office, yang merupakan headquarter UN di Eropa. Dari dekat centrum, kami naik bus ke arah Nations. Tiket bisa dibeli di vending machine di halte bus, harganya sekitar 2.7 franc PP jika durasinya kurang dari 1 jam. Walau tiket bus di Swiss ga akan diperiksa, tapi kami kekeuh bayar, walau mahal, supaya perjalanannya barokah. Heuheu.

Kembali ke UN Office. Headquarter ini merupakan kantor PBB terbesar kedua setelah headquarter di New York. Saya sempat mengira ini kantornya Ban-Ki Moon, sekjen PBB saat ini. Ternyata, tidak. Headquarter ini tidak lain adalah markas UN cabang Eropa yang diketuai Direktur tersendiri. Saat ini, UN headquarter di Geneva dimpimpin oleh Michael Moller dari Denmark. Sebetulnya jika waktunya pas, turis bisa ikut tour ke dalam gedung UN,dengan membayar sekitar 10 CHF. Jadwal guided tour bisa dilihat di website resmi UN office Geneva.

IMG_2271.JPG

IMG_2283.JPG

Maklum turis, di semua spot, foto.

Di depan UN office, terdapat monumen Broken Chair. Sesuai namanya, monument ini berbentuk kursi kayu raksasa yang pincang salah satu kakinya. Menurut Wikipedia, monumen ini dibuat oleh seniman Swiss, Daniel Berset atas permintaan organisasi Handicap International  sebagai perwujudan desakan pada seluruh negara untuk menyetujui perjanjian Ottowa, dimana poin utamanya adalah pelarangan penggunaan ranjau darat yang kerap menimbulkan cacat fisik. Pesan utama dari monumen ini adalah untuk mengenang korban ranjau darat dan sebagai saran dibentuknya pelarangan penggunaan cluster bombs. Sedih ya. Semoga perang di belahan bumi manapun segera berakhir.

IMG_2269.JPG

Broken Chair Monument tepat di depan UN Headquarter Geneva

Pukul 12.00, kami tiba kembali ke stasiun Geneva Cornavin dari Nations. Setelah Geneva, tujuan kami selanjutnya adalah check-inn di Lausanne. Kami menumpang kereta IR/Inter Regio dari Geneva menuju Lausanne. Untuk rute ini, tersedia juga kereta berjenis R/Regio, hanya saja waktu tempuhnya lebih lama. Perjalanan dari Geneva ke Lausanne memakan waktu 1 jam. Karena perut sudah keroncongan, kami makan siang di kereta. Kami membawa bekal dari rumah, yaitu nasi goreng, telur dadar, dan ayam goreng. Rasanya nikmat sekali makan nasi. Mungkin karena efek cape setelah setengah hari nyikreuh. Ohya, karena harga makanan di Swiss relatif serba mahal, membawa bekal sebisanya bisa jadi salah satu alternatif untuk menghemat.

IMG_2299.JPG

di dalam kereta Swiss

Setiba di kota Lausanne sekitar pukul 1, kami langsung menuju apartemen AirBnb tempat kami menginap. Lokasinya strategis di dekat centrum Lausanne. Kami memilih menginap di Lausanne karena harga akomodasi yang  cukup murah dibanding Montreux, kota tujuan utama kami. Untuk 1 malam kami membayar sekitar 79 euro untuk berdua. Memang rencana Alloh luar biasa, ternyata kami mendapat host muslim. Kami tidak menyangka sebelumnya karena tidak ada keterangan di akun beliau. Beliau adalah warga negara Swiss keturunan Maroko. Oleh beliau, kami ditunjukkan arah ke masjid Lausanne, yang merupakan masjid terbesar di French speaking part of Swiss. Akan saya ceritakan pengalaman berkunjung ke masjid Lausanne di tulisan di bawah. Lausanne sendiri adalah salah satu kota di pingir danau Geneva yang merupakan headquarter komite olimpiade. Disini juga terdapat museum olimpiade. Namun, karena waktu yang terbatas dan kami sudah menentukan prioritas lain, kami tidak sempat berkunjung ke museum tersebut. Tujuan kami di Lausanne hanya mengunjungi masjid Lausanne.

IMG_2295.JPG

Slogan “Lausanne Capitale Olympique” di Central Station Lausanne

Kembali ke trip. Setelah check in, sholat dan istirahat sebentar, sekitar pukul 2 siang kami bersiap menuju Montreux. Perjalanan Lausanne-Montreux memakan waktu sekitar 15 menit. Tujuan utama kami di Montreux adalah mengunjungi Chateau de Chillon dan menikmati panorama Danau Geneva di Montreux yang berbatasan langsung dengan barisan pegunungan Alpen.

Untuk menuju kastil Chateau de Chillon, dari Montreux centraal station kami harus berganti kereta dengan tujuan Chateau de Chillon. Harga tiket masuk kastil sekitar 10-12 franc. Ada diskon khusus untuk student. Menurut website resmi Chateau de Chillon, Chateau de Chillon dulunya merupakan kastil, benteng, sekaligus penjara milik kaum Savoy, Bern/Bernese, dan kaum Vaudois, yang dibangun sejak abad ke 12. Kastil ini terletak di pinggir danau Geneva, menjadikan pemandangan di sekitar kastil cantik sekali.

IMG_2361.JPG

My baby & Chateu de Chillon

Interior dalam kastil tidak terlalu istimewa, tipikal kastil medieval, mirip dengan Alcazaba di Malaga, Spanyol. Di dalamnya terdapat aula, chapel, gudang penyimpanan wine, kamar-kamar, dan ruang tahanan. Ada sebuah puisi terkenal mengenai tahanan di chateau de chillon yang dibuat oleh penyair Inggris, Lord Byron. Judul pusinya adalah “Prisoner of Chillon.” Puisi ini diabadikan menjadi sebuah monumen di salah satu ruang tahanan di dalam kastil.

Setelah puas mengeksplor kastil, kami beristirahat di pinggir Danau Geneva di samping kastil. Pemandangannya indah banget, kombinasi antara sunset, Danau Geneva, Pegunungan Alpen, dan kastil. Kalau kata suami ada 1 yang kurang: emang2 cuankie! *kekeke* Sambil duduk-duduk, kami memakan bekal snack yang saya bawa dari rumah *jiwaemak2* *segaladibawa* berupa biskuit2 dan cokelat.

IMG_2381

Pemandangan Montreux dari dalam Chateau de Chillon

IMG_2445.JPG

view di sekitar Chateau de Chillon

Setelah puas, kami kembali ke Montreux, namun kali ini menggunakan bus. Karena kami masih ingin menikmati panorama Montreux, kami turun sekitar 2 halte sebelum stasiun Montreux dan memilih berjalan kaki di pedestrian tepi danau. Disini pemandangannya cantik sekali. Betah rasanya berlama-lama di Montreux.

IMG_2462.JPG

menikmati sunset di Montreux

Sekitar pukul 6.30, kami pulang ke Lausanne dengan menumpang kereta. Kebetulan, hari itu bertepatan dengan festival anime di Montreux. Jadi, gerbong kereta yang kami tumpangi penuh dengan orang-orang yang memakai cosplay manga seperti one piece, pikachu, naruto, samurai X, dan sebagainya. Menurut teman sebelah kami, festival manga itu diadakan setiap tahun di Montreux dan merupakan festival anime terbesar di French speaking part of Swiss.

Sesampainya di Lausanne, kami bergegas menuju masjid Lausanne. Ternyata di sekitar masjid ada restoran halal. Akhirnya kami melipir sebentar untuk mengisi perut. Menunya standar resto kebab. Kami memesan cheese burger, dan menu semacam kombinasi chicken katsu, salad, dan kentang. Ohya di Swiss, seperti di Belanda, rasa air kerannya gak aneh seperti di Italia atau Prancis. Jadi selama perjalanan, kami menggunakan tap water untuk minum.

IMG-20160329-WA0003 (1)

Masjid Lausanne, Swiss

Sesampainya di masjid kami sholat maghrib. Ternyata sedang ada pengajian. Khatibnya berceramah menggunakan Bahasa Prancis.  Di masjid, kami bertemu kembali dengan host kami, yang ternyata adalah salah satu pemuda yang aktif di kegiatan masjid, mungkin anggota DKMnya lah. Beliau menceritakan bahwa pembangunan masjid ini unik. Umumnya, pembangunan masjid di Eropa disponsori oleh satu negara, mangkanya kita familiar dengan istilah masjid Turki, masjid Maroko, masjid Bangladesh atau masjid Indonesia. Nah, Masjid Lausanne ini lain, karena pembangunannya hasil urunan banyak negara. Misal, karpet di masjid adalah sumbangan warga keturunan Turki. Lampu masjid didesain oleh orang Italia. Dan pagar dalam masjidnya berasal dari kayu jati dari Indonesia! Ya Indonesia.^^ Dari beliau, kami juga tahu bahwa perkembangan Islam di Swiss khususnya Lausanne cukup pesat. Lumayan banyak yang convert kembali ke tauhid. Dari beliau juga kami tahu bahwa masjid Lausanne ini sangat aktif, sering mengadakan acara dialog terbuka dengan warga sekitar, kalau ada acara buka puasa bareng warga sering diundang untuk makan-makan bersama, dan sebagainya. Alhamdulillaah, di tengah gempuran perang pemikiran dan fitnah terhadap agama ini, ternyata masih banyak yang berjuang untuk menjadi rahmat bagi bumi Eropa dan menjadi perantara hidayah menuju fitrah bagi penduduk disana. Salute untuk team masjid Lausanne!

2d4e8eb6-46c0-41c8-ab12-c1cf6eb8c3d7

Aa & host kami

Perjalanan di hari kedua insya Alloh akan segera saya tuliskan juga.

Au Revoir!!